2015-10-21: WRTG: NYMEX Light Sweet Crude: $45.89 (-1.37)
2015-10-21: WRTG: ICE Brent: $48.61 (-1.85)
2015-10-21: WRTG: RBOB Gasoline NY Harbor: $1.2514 (-0.0766)
2015-10-21: WRTG: Heating Oil NY Harbor: $1.4491 (-0.0475)
2015-10-21: WRTG: NYMEX Natural Gas: $2.442 (0.012)
2016-02-11: OPEC: Daily Basket Price: $25.21
Rabu, 17 Januari 2018

Berita

LISTRIK

Kapal Listrik Terapung Solusi Defisit Listrik

AMURANG – PT PLN (Persero) berencana akan memanfaatkan pasokan listrik dari kapal listrik terapung untuk mengatasai defisit listrik di beberapa wilayah Indonesia. Saat ini pasokan listrik dari kapal listrik terapung sudah dimanfaatkan untuk mengatasi defisit listrik yang dialami PLN Wilayah Sulawesi Utara, Tengah, dan Gorontalo (Suluttenggo) dengan menggunakan pasokan listrik dari kapal listrik terapung, Karadeniz Powership Zeynep Sultan.

Kapal pembangkit asal Turkey tersebut itu telah merapat di Amurang sejak tanggal 24 Desember 2015. Kapal lego jangkar di bibir pantai di dekat PLTU Amurang. Menurut Direktur Bisnis Regional Sulawesi dan Nusa Tenggara PLN, Machnizon Masri, penggunaan kapal pembangkit listrik terapung mempunyai sejumlah kelebihan. "Kelebihan kapal pembangkit terapung ini selain kapasitasnya besar, juga mudah dipindah ke tempat lain," kata Machnizon.

Marine Vessel Power Plant pertama ini dapat dioperasikan dengan dual fuel yaitu jenis heavy fuel oil dan gas. MVPP ini mengandalkan enam unit mesin pembangkit berkapasitas masing-masing 20 MW.

Menurut Machnizon, pembangkit ini bisa dialihkan ke tempat lain bila dibutuhkan. Selain itu, keberadaan pembangkit terapung juga membuat PLN lebih punya cadangan listrik bila pembangkit milik PLN memasuki masa overhaul. Sebab, di wilayah Suluttenggo, daya saat beban puncak mencapai 325 MW, sementara daya mampu adalah 275 MW.

Kelebihan lainnya, PLN menyewa pembangkit terapung ini dalam jangka waktu lima tahun dengan nilai kontrak sebesar Rp 1.850 per kWh. Nilai ini sudah termasuk bahan bakar. Selain itu, PLN hanya akan membayar sesuai listrik yang digunakan saja.

“Pemanfaatan Kapal listrik terapung tersebut menurunkan Biaya Pokok Penyediaan (BPP) listrik, sehingga menghasilkan penghematan hingga Rp 350 miliar per tahun dan lebih cepat dalam memenuhi kebutuhan tambahan pasokan listrik di suatu daerah yang sedang kekurangan listrik,” lanjut Machnizon.

Pembangkit listrik terapung dianggap tepat mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan dengan 17.000 pulau. Maka pembangkit listrik di atas kapal yang bisa mobile dari satu pulau ke pulau lain? paling cocok dengan Indonesia.

Banyaknya keuntungan yang dapat diperoleh dari keunggulan kapal listrik terapung ini selanjutnya, PLN akan mendatangkan power plant serupa untuk beberapa lokasi antara lain Sumatera Bagian Utara (240 MW), Kupang (60 MW), Ambon (60 MW), dan Lombok (60 MW). (SF)

PDFCetakE-mail